Dipagi yang cerah, kicauan burung telah membangunkan Desi tepat pukul 05.30.Tapi Desi masih enggan untuk keluar kamar, karena dia mengalami cobaan yang berat dalam hidupnya.Beberapa waktu yang lalu dia pergi ke rumah sakit karena dia pingsan dan saat itu dokter memvoniskan terkena kanker otak stadium akhir.”Tuhan ,kenapa kau berikan aku cobaan seberat ini?”batinnya disela airmata yang keluar membasahi pipinya.
Setelah Desi sadr dari lamunanya.Dia melihat jam dinding sudah jam setengah tujuh dan tanpa dia sadari dia melamun sudah 1jam.Bergegas dia menyambar handuk dan pergi mandi.Sekitar 20 menit dia sudah selesai mandi dan siap dengan seragam sekolahnya.Setelah pamit sama mama dan papanya dia berangkat ke sekolah
Untungnya dia tidak terlambat sampai di sekolah dan saat dia jalan menuju kelasnya, tanpa sengaja dia menabrak seorang cowok yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
“Eh,sorry-sorry aku tadi terburu-buru dan nggak sengaja nabrak kamu,”kat cowok itu sambil mengulurkan tangannya pada Desi.
“Eh,nggak-nggak seharusnya aku minta maaf karena aku tadi jalannya meleng,”kata Desi agak gugup.
“Nggak pa-pa kok. O ya kenalin aku rey,” kata cowok itu.
“Aku Desi, kamu anak baru ya, kok sebelumnya aku nggak pernah lihat kamu sich?”
“Iya, aku baru pindahhan dari Surabaya, aku kelas XI IPA2
“Ow jadi kamu kakak kelas ku donk. E.. kak maaf ya aku buru-buru mau ke kelas, soalnya bentar lagi mau bel,”kata Desi pada kak Rey.
“Ok,aku juga buru-buru mau ke perpus,”kata kak Rey
Sudah 2 hari semenjak perkenalannya dengan kak Rey, Desi nggak pernah muncul lagi di sekolah, kebetulan hari ini semua kelas kosong Karen para guru sedang rapat bulanan di kantor. Jadi siswa kebanyakan menggunakan kesempatan itu untuk bermain-main, tapi berbeda dengan Dewi teman Desi, dia memilih untuk berdiam di kelas, dia sedih karena Desi dirwat dirumah sakit dan dia baru tau tadi pagi dirumah Desi.
Saat Dewi tengah asyik dengan kesedihannya, tiba-tiba seorang cowok masuk ke kelas Dewi.
“Hai kamu Dewi kan? Temannya Desi?kenalin aku Rey.”kata kak Rey
“Ya, kok kak Rey tau kalau aku temennya Desi? Terus kakak kok kenal sama Desi sih?”
“Ya kenal donk, aku kan kenal salah satu pengagumnya,”ngomong-ngomong Desi kemana ya? Koko aku nggak pernah lihat dia sich?”
“Desi dirawat di rumah sakit, kata pembantunya di sekarang kritis, tapi pembantunya nggak tahu Desi sakit apa,”jelas Dewi.
“Terus, kamu udah jenguk dia?”Tanya kak Rey
“Rencananya sih entar pulang sekolah,kalau kakak mau, kakak ikut aja”.
“Ok deh kalau gitu entar pulang sekolah kakak tunggu kamu di gerbang,”kata kak Rey.
Sepulang sekolah Dewi dan kak Rey pergi kerumah sakit untuk menjenguk Desi.
“Siang Om, Tante,”sapa Dewi dan kak Rey pada orang tua Desi
“Eh Dewi, silahkan masuk Dew…!”
“Makasih Tante, o ya gimana keadaan Desi?dan ngomong-ngomong dia sakit apa ya?”Tanya Dewi pada mamanya Desi.
“Desi… dia sakit kanker otak stadium akhir”
Dewi dan kak Rey kaget mendengarkan pernyataan mamanya Desi.
“Sekarang ini keadaanya kritis dan kata dokter sudah tak banyak harapan dan dia terus menerus memanggil kak Rey,”lanjut mama Desi yang tak kuasa menahan tangis
Kak Rey pun menghampiri Desi. Dia menggegam tangan Desi yang memucat. “Des, kakak mohon,kamu harus bertahan. Kakak yakin kamu kuat,bertahanlah demi kakak,bertahanlah demi kakak,”ucap kak Rey sambil membelai rambut Desi.
“Kak…Desi sudah tidak kuat lagi kak. Desi Cuma mau bilang kalau Desi sayang sama kakak. Makasih kakak sudah beri kebahagiaan buat Desi dihari terakhir Desi.
Desi tunggu kakak disana…,”lirih, dan itu hembusan terakhir Desi.
“Desi maafin kakak karena kakak belum sempat bilang sama kamu tentang perasaan kakak. Semoga kamu bahagia dan tenang disana.”ucap kak Rey dalam hati.










0 komentar:
Posting Komentar